Minggu, 23 September 2012



Tentang Wayang Golek
Wayang golek atau disebut “golek” saja, merupakan salah satu jenis tradisi yang hingga sekarang masih tetap bertahan hidup di daerah Sunda. Berbeda dari wayang kulit yang dwimatra, golek adalah salah satu jenis wayang trimatra.
Golek memiliki sifat pejal. Ia merupakan boneka tiruan rupa manusia (ikonografi), yang dibuat dari bahan kayu bulat torak untuk mempertunjukkan sebuah lakon.
Ada 2 macam wayang golek di daerah Sunda, yaitu wayang golek papak (cepak atau wayang golek menak dan wayang golek purwa. Wayang golek yang banyak dikenal orang adalah wayang golek purwa. Sama seperti wayang kulit, pementasan wayang golek purwa menampilkan cerita Ramayana dan Mahabharata.
Apa itu Wayang?
Wayang merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang sendiri meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sasra, seni lukis, seni pahat dan juga seni perlambang.
Menurut penelitian ahli sejarah, sebetulnya budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia yang sudah ada jauh sebelum agama Hindu masuk ke pulau Jawa. Memang, cerita wayang yang populer saat ini merupakan adaptasi cerita dari karya sasra India, yaitu Ramayana dan Mahabrata. Tetapi sudah mengalami adaptasi untuk menyesuaikan dengan falsafah asli Indonesia.
Pengertian wayang sangat tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya. Kata wayang dapat diartikan secara luas, tetapi seringkali dibatasi dengan makna boneka, gambar, tiruan dari manusia, tokoh/pemain dalam suatu pertunjukan/sandiwara. Arti ini mirip dengan yang ada dalam Kamus Umum Bahasa Sunda, yaitu wayang adalah boneka atau penjelmaan dari manusia yang terbuat dari kulit atau pun kayu. Namun ada juga yang mengartikan bahwa perkataan wayang berasal dari bahasa Jawa, yang artinya perwajahan yang mengandung penerangan.

Asal Usul Wayang
Mengenai asal-usul wayang khusus di Indonesia juga ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan bahwa wayang berasal dari kebudayaan India yang sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu. Pendapat lain mengatakan bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan asli masyarakat Jawa tanpa ada pengaruh budaya lain. Disebutkan pula oleh beberapa sumber bahwa wayang berasal dari relief candi karena candi memuat cerita wayang, seperti candi Prambanan.
Bukti keberadaan wayang dalam perjalanan sejarah di Indonesia tercatat dalam berbagai prasasti, seperti prasasti Tembaga (840 M), prasasti Ugrasena (896 M), dan prasasti Belitung (907 M).
Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa.
Pertunjukan Kesenian wayang sendiri adalah sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Meski ada perbedaan pendapat mengenai asal-usul wayang, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan wayang di Indonesia sudah melalui perjalanan waktu yang sangat panjang dan hingga kini masih hidup di dalam masyarakat.
Jenis Wayang
Jenis wayang dapat dibedakan dari berbagai sudut pandang. Berdasarkan cerita yang dibawakan, cara mementaskan, dan bahan pembuatannya, di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, terdapat sekitar 40 jenis wayang yang sebagian di antaranya sudah punah.
Jenis Wayang Berdasarkan Cerita
Cerita yang digunakan dalam pementasan wayang sangat beragam. Lakon wayang yang biasa dan sudah lebih dikenal masyarakat adalah Mahabharata dan Ramayana. Jenis wayang yang menggunakan kisah tersebut antara lain : Wayang kulit, Wayang Golek,Wayang Orang, dan Wayang Jemblung.
Wayang-wayang tersebut biasa juga disebut wayang purwa.
Wayang madya (Jawa) adalah wayang yang menggunakan unsur “cerita sesudah zaman purwa”. Cerita itu mengisahkan para raja Jawa yang dianggap keturunan Pandawa.
Sementara itu wayang gedog, wayang klitik, dan wayang beber (ketiganya dari Jawa), juga wayang gambuh dan wayang cupak dari Bali, melakonkan cerita panji.

Jenis Wayang Berdasarkan Cara Pementasan
Cara pementasan wayang secara langsung berkait dengan bentuk wayang. Wayang kulit, misalnya. Pola pertunjukan wayang kulit yaitu bentuk wayang yang dinikmati bayangannya dalam kelir (layar) dihasilkan oleh sinar blencong, cempor, atau bahkan lampu pijar.
Bentuk pementasan lain adalah dengan membeberkan gambar wayang yang dibuat di atas kulit kayu, kertas, maupun bahan papar lainnya. Wayang yang dipentaskan dalam bentuk pementasan seperti itu disebut wayang beber.
Berbeda dengan pementasan wayang yang mulanya diadakan pada malam hari, wayang golek dipentaskan pada siang hari. Hal ini karena wayang golek memiliki bentuk seperti boneka, sehingga sifat pementasannya tidak menitikberatkan tampilan bayangan pada kelir sebagaimana sifat pementasan wayang pada malam hari.
Wayang klitik atau wayang krucil merupakan wayang boneka kayu, tetapi berbeda dengan wayang golek. Bentuknya pipih dan lebih menyerupai bentuk wayang kulit. Untuk mementaskannya tidak diperlukan kelir seperti pada wayang kulit, tetapi seperti memainkan golek.
Wayang dangkluk juga terbuat dari kayu, tetapi cara pementasannya sangat khusus. Wayang ini digantungkan pada empat utas kawat yang direntangkan melintasi panggung. Yang mempertunjukkannya adalah dua orang dalang yang masing-masing berada di sisi panggung.
Selain wayang-wayang yang terbuat dari kulit maupun kayu, ada pula wayang yang pemainnya orang, yaitu wayang orang, wayang topeng, wayang langendria, dan wayang jemblung. Pementasannya sama dengan sandiwara lainnya, hanya saja memakai kelengkapan pewayangan mulai dari pakaian, musik, tari, dan cerita.
Jenis Wayang Berdasarkan Bahan Pembuatannya
Bahan pembuatan wayang secara garis besar terdiri atas bahan dwimatra dan trimatra. Jenis wayang dwimatra biasa menggunakan bahan-bahan papar seperti kertas, kain, karton, dan kulit. Sementara itu jenis wayang trimatra terbuat dari bahan pejal berupa kayu bulat-torak.
Jenis wayang terbuat dari kulit antara lain wayang kulit purwa, wayang madya, wayang gedog, wayang dupara, wayang jawa, wayang dobel, wayang kulit menak, wayang wahyu, wayang Ramayana, wayang parwa, wayang gambuh, wayang cupak, dan wayang calonarang.
Wayang beber merupakan jenis wayang yang dibuat di atas beberan kertas, kain, atau bahan sejenis lainnya. Keberadaannya pun berbeda dengan jenis wayang lainnya. Ia tidak mengalami perkembangan yang sinambung hingga kini.
Wayang yang terbuat dari bahan kayu terdiri atas dua macam. Pertama, wayang golek. Wayang ini lebih mirip dengan boneka kayu yang terbuat dari kayu bulat-torak. Kedua, wayang yang lebih mirip wayang kulit, dibuat dari kayu pipih. Jenis wayang ini disebut wayang klitik.
Wayang Golek Sunda
Sejarah Singkat
Di Jawa Barat, tempat berkembangnya wayang pertama kali adalah Cirebon, yaitu pada masa Sunan Gunung Jati (abad ke-15). Jenis wayang yang pertama kali dikenal adalah jenis wayang kulit. Sementara wayang golek mulai dikenal di Cirebon pada awal abad ke-16 dan dikenal dengan nama wayang golek papak atau cepak. Dalam perkembangannya, kita lebih mengenal wayang golek purwa, yaitu yang berlatar belakang cerita Ramayana dan Mahabharata.
Kelahiran golek berasal dari ide Dalem Bupati Bandung (Karang Anyar) yang menugaskan Ki Darman, juru wayang kulit asal Tegal yang tinggal di Cibiru, untuk membuat bentuk golek purwa. Awalnya wayang kayu ini masih dipengaruhi bentuk wayang kulit, yaitu gepeng atau dwimatra. Pada perkembangan selanjutnya, tercipta bentuk golek yang semakin membulat atau trimatra seperti yang biasa kita lihat sekarang. Kemudian, pembuatan golek pun menyebar ke seluruh wilayah Jawa Barat seperti Garut, Ciamis, Ciparay, Bogor, Kerawang, Indramayu, Cirebon, Majalaya, dan sebagainya.
Golongan Utama
Bagaimana wayang golek itu divisualisasikan dalam bentuk atau raut, secara garis besar dikelompokkan dalam empat golongan utama yaitu:
1.Satria
Bentuk tubuh golek golongan satria ini menggambarkan keluwesan, ketenangan dan kelemahlembutan, dengan tetap tidak menghilangkan unsur kegagahan dan kecerdasannya. Golongan ini memiliki bentuk mata sipit, alis tipis, dan hidung cenderung kecil dan tidak memiliki kumis. Tokohnya seperti Rama, Samiaji, Nakula, Sadewa.
“Sri Rama beristerikan Dewi Shinta, setelah memenangkan sayembara menarik Busur Pusaka Kerajaan Mantili (Mithiladiraja).”
Dewi Shinta

2.Ponggawa
Golongan golek ini digambarkan sebagai tentara yang ditampilkan dengan bentuk tubuh yang tegap, tegas, dengan mata besar, alis tebal, berkumis, hidung mancung. Tokoh-tokohnya antara lain Gatotkaca, Bima, Duryudana.

“Gatotkaca, salah seorang tokoh dari epos Mahabharata. Dikenal dengan julukan otot kawat, tulang baja, daging besi.
Dia memiliki jiwa seni yang tinggi, pembuat arca, patung-patung dari batu.”
2.Buta
Buta atau disebut juga raksasa memiliki bentuk tubuh tinggi besar, mata melotot, alis tebal, hidung besar dan bertaring atas bawah. Tokoh golongan ini yang terkenal adalah Rahwana.
“Prabu Rahwana, atau Prabu Dasamuka, adalah raja dari Kerajaan Alengkadirja. Ia menculik istri Batara Rama, yaitu Dewi Sinta”
2.Panakawan
Golongan golek ini digambarkan sebagai tokoh yang kocak dan jenaka. Banyak golek ciptaan baru yang digolongkan dalam golek panakawan.
“Cepot alias Sastrajingga Wataknya humoris, suka banyol ngabodor. Kendati begitu, lewat humornya dia tetap memberi nasehat petuah dan kritik.”

Fungsi
Dalam catatan sejarah kemunculan wayang golek semasa Kerajaan Pajajaran, wayang golek berfungsi untuk upacara ritual yaitu untuk ruwatan dan untuk hiburan.
Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material.
Wayang golek juga lazim dipentaskan dalam perayaan khusus seperti khitanan, perkawinan, perayaan karawitan, hari-hari besar, dan penyambutan tamu-tamu Negara.
Cara Membuat
Bahan
1. Kayu
Jenis kayu lame dan albasia adalah yang terbaik karena jenis ini ringan, mudah dibentuk atau dipahat serta tahan lama terhadap pengaruh cuaca.
2. Pewarna
Pewarna yang digunakan adalah cat kayu yang berwarna cerah dan mudah kering.
Bahan pewarna yang kini banyak digunakan adalah cat duko (cat untuk mobil). Cat duko lebih menguntungkan dari segi penampilan golek sebab warna golek menjadi lebih cerah. Selain itu, cat duko lebih mudah kering dibandingkan cat kayu.
3. Tuding
Tuding digunakan sebagai pegangan dalang pada saat memainkan golek, yaitu alat untuk menggerakkan bagian tangan golek dan untuk menancapkan golek di atas alas gebok/dudukan golek. Tuding biasanya terbuat dari bambu.
5. Bahan untuk hiasan kepala dan pakaian
Biasanya terbuat dari bahan kain.


Proses Pembuatan
Wayang golek dibentuk dengan cara diraut dan diukir. Setelah itu didempul. Sebelum diwarnai, diberi arsiran dulu untuk menentukan bagian mana akan diberi warna apa. Sementara pada bagian hiasannya, dibuat dengan cara dipulas.
Cara Memainkan
Pementasan wayang pada mulanya hanya dilakukan malam hari. Hal ini berkaitan dengan sifat pementasan wayang yang menitikberatkan tampilan bayangan pada kelir. Baru pada abad ke-16, pertunjukan diadakan pula pada siang hari. Wayang yang dipertontonkan memiliki bentuk trimatra, berupa boneka kayu, yang disebut golek.
Pertunjukan wayang golek biasanya di tempat terbuka dengan memakai panggung yang ditinggikan (balandongan) sehingga penonton dapat melihat satu arah dan berkonsentrasi pada pertunjukannya.
Pada abad ke-19 pementasan wayang golek mulai menggunakan bahasa Sunda. Lakon-lakon wayang golek memiliki lakon galur dan carangan yang semuanya bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Pembawa cerita yaitu dalang, berperan sekaligus sebagai pemimpin pertunjukan sekaligus menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, lagu, dan lain-lain.
Khas Wayang Golek
Daya tarik wayang golek adalah bentuknya yang tidak monoton, baik bagi konsumen (pembeli) maupun bagi pembuatnya. Wayang golek dirancang sedemikian rupa untuk menarik konsumen dan bagus ketika dipajang di galeri. Sementara pembuat wayang golek termotivasi untuk berkreasi misalnya mereka bebas memberi warna pada berbagai karakter wayang golek yang mereka buat, tentunya dengan persetujuan pemilik pabrik wayang golek di mana mereka bekerja. Ini membuat pengrajin wayang golek bisa memnciptakan aneka tampilan wayang golek, sehingga wayang golek ada yang terlihat antik, natural, maupun yang berwarna emas.
Cerita
Mahabharata
Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik antara dua kubu, yaitu para Pandawa dengan sepupu mereka, Kurawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah Negara Astina. Puncaknya adalah Perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan berlangsung selama delapan belas hari.
Pandawa
Kubu Pandawa terdiri dari lima tokoh, karena itulah sering disebut Pandawa lima. Para Pandawa itu adalah :
1. Yudistira
Atau Puntadewa adalah raja negara Amarta atau Indrapasta. Setelah perang Baratayuda, menjadi raja Astina yang bergelar Prabu Kalimataya. Sifatnya: jujur, sabar, hatinya suci, berbudi luhur, suka menolong sesama, mencintai orang tua serta melindungi saudara-saudaranya.
2. Bima
Bima juga dikenal dengan nama Bratasena. Ia juga disebud Bayu Suta karena dianggap sebagai putra dari Dewa Angin. Arti nama Bima adalah setia pada satu sikap, tak pernah mendua dan tak suka berbasa-basi.
3. Arjuna
Arjuna adalah ksatria yang sakti mandraguna, kekasih para Dewa. Ia adalah titisan Dewa Wisnu.
Ia dijuluki lelananging jagad, parasnya sangat tampan dan tidak ada tandingannya. Sifatnya: Suka menolong sesama, gemar bertapa, cerdik dan pandai, ahli dibidang kebudayaan dan kesenian dan berjiwa ksatria. Tetapi ada kelemahan yang tidak boleh diteladani dan diterapkan pada jaman sekarang yaitu beristri banyak.
4. Nakula
Adalah saudara kembar Sadewa. Nakula seorang ahli dalam bidang Pertanian.
5. Sadewa
Ia dilahirkan kembar dengan Nakula. Setelah perang Baratayuda, Sadewa menjadi raja dengan Nakula di Mandraka. Sadewa adalah ahli dalam bidang peternakan.
Kurawa
Kurawa merupakan kelompok antagonis dalam cerita Mahabharata. Jumlah mereka ada seratus, tetapi dua karakter utamanya adalah Duryodana dan Dursasana.
1. Duryodana
Ia merupakan putra tertua di kelompok Kurawa. Duryodana digambarkan sangat licik dan kejam. Meski berwatak jujur, ia mudah terpengaruh hasutan karena kedunguannya serta terbiasa dimanja oleh orangtuanya.
2. Dursasana
Ia adalah salah seorang Kurawa yang cukup terkenal. Badannya gagah, mulutnya lebar dan mempunyai sifat sombong, suka bertindak sewenang-wenang, menggoda wanita dan senang menghina orang lain.
Ramayana
Cerita Ramayana adalah sebuah cerita kepahlawanan. Tokoh utamanya, Rama, seorang pewaris tahta Kerajaan Kosala. Tetapi, ia lebih memilih untuk hidup di hutan bersama istrinya, Sita dan adiknya, Laksamana. Ketika tinggal di hutan, Rama harus menghadapi raksasa bernama Rahwana yang menculik istrinya.
Galeri Gambar
1. Buta
Brajamusti: Braja Musti ialah adik Braja Denta. Ia anak kelima dari Arimbaka, raja raksasa negeri Pringgandani. Sifatnya mudah marah, bengis, dan ingin menang sendiri. Sama seperti kakaknya, Braja Denta, Braja Musti berusaha merebut kekuasaan dari tangan Gatotkaca yang menjadi raja Pringgandani. Akhir hidupnya pun tidak berbeda dengan Braja Denta. Ia tewas dalam pertempuran melawan Gatotkaca.
Cakil: Cakil berwujud raksasa dengan gigi tonggos. Tokoh Cakil hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa. Cakil selalu ada dan hidup di setiap negara raksasa. Ia merupakan raksasa hutan dengan tugas merampok para satria atau mengganggu ketentraman para brahmana di pertapaan.
Kumbakarna: Kumbakarna adalah seorang raksasa yang amat mengerikan namun memiliki sifat perwira. Ia merupakan saudara kandung Rahwana. Sifat Kumbakarna adalah tidur panjang agar ia tidak menyakiti makhluk di dunia. Kumbakarna hanya bangun satu hari dalam waktu enam bulan.
Kumbakarna seringkali memberi nasehat kepada Rahwana bahwa tindakannya keliru. Ketika Rahwana kewalahan menghadapi Rama, ia menyuruh Kumbakarna menghadapinya. Meski tahu bahwa kakaknya yang bersalah, tetapi demi membela tanah tumpah darahnya, Kumbakarna maju melawan serbuan Rama. Namun akhirnya Kumbakarna dibunuh oleh Laksmana, adik Rama.
Arimbi: Dewi Arimbi berasal dari golongan Buta dan berwujud raksasa. Tetapi ia mempunyai kesaktian bisa beralih rupa dari wujudnya raksasa menjadi putri yang cantik jelita. Dewi Arimbi menikah dengan salah saeorang Pandawa, yaitu Bima. Arimbi memiliki anak dari Bima dan diberi nama Gatotkaca. Watak Arimbi adalah jujur, setia, berbakti dan sangat sayang kepada putranya. Arimbi gugur di medan Perang Bharatyudha karena membela putranya, Gatotkaca, yang gugur akibat panah milik Adipati Karna, raja Awangga.
Rahwana: Rahwana binasa oleh Batara Rama, dikarenakan menculik Dewi Sinta (istri Batara Rama). Ia dijepit oleh dua gunung kembar yang mana merupakan perwujudan dari dua orang kembar anaknya, yakni Sonara dan Sonari. Kemudian sukmanya ditunggui oleh Anoman, monyet putih.
Arimbaka: Arimbaka merupakan raja raksasa Negara Pringgandani. Bersama istrinya, Dewi Hadimba, ia memiliki delapan anak yaitu Arimba, Probokesa, Braja Denta, Braja Musti, Braja Lamatan, Braja Wikalpa dan Kalabendana.
Arimba: Arimba putra pertama dari Arimbaka raja raksasa dari Negara Pringgandani. Arimba-lah yang menggantikan ayahnya menjadi raja Pringgandani. Namun kemudian ia terbunuh dalam pertempuran melawan Bima, suami Arimbi, adik kandungnya.
Braja Denta: Braja Denta salah satu anak dari Arimbaka, raja raksasa Negara Pringgandani. Ia sangat sakti dan berwatak berani, ingin menang sendiri dan selalu mengikuti kata hatinya. Oleh kakaknya, Arimbi, Braja Denta ditunjuk sebagai wakil raja memegang tampuk pemerintahan di negaranya selama Arimbi ikut bersama suaminya, Bima. Ketika Gatotkaca, putra Arimbi, diangkat menjadi raja Pringgandani, Braja Denta melakukan beberapa kali pemberontakan. Namun usahanya itu berhasil diatasi oleh Gatotkaca. Ia pun tewas dalam peperangan melawan Gatotkaca.
Braja Lamatan: Braja Lamatan merupakan putra keenam Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani. Sifatnya tidak jauh berbeda dari kedua kakaknya, Braja Denta dan Braja Musti, beringasan, mudah marah, pemberani dan amat sakti. Bersama kedua kakaknya itu, Braja Lamatan tewas dalam pertarungan melawan Gatotkaca.

Pancat Nyana: Pancat Nyana ialah patih Negara Surateleng pada masa pemerintahan raja Narakasura. Narakasura tewas dalam perang melawan Bambang Sitija, anak Kresna, raja Dwarawati. Lalu Bambang Sitija pun menjadi raja Surateleng dan Pancat Nyana tetap menjadi patih di sana. Pancat Nyana dikisahkan tewas dalam peperangan melawan Gatotkaca, raja Pringgandani, dalam peristiwa persengketaan hutan Tunggarana.

Betara Kala: Betara Kala merupakan anak dari Betara Guru dan Dewi Uma. Bisa dikatakan bahwa kehadiran Betara Kala tidak diharapkan. Kisah kelahirannya berawal dari ketika Betara Guru dan Dewi Uma terbang menjelajahi dunia dengan kendaraan suci Lembu Andini. Karena terlena, Betara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan itu. Akibatnya Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan tiba di kahyangan, Betara Guru marah pada dirinya sendiri dan juga Dewi Uma. Betara Guru pun menyumpah-nyumpah bahwa perbuatannya seperti perbuatan ‘buta’ atau raksasa. Seketika itu pula Dewi Uma yang sedang hami berubah jadi raksasa. Betara Guru lalu mengusir Dewi Uma. Dewi Uma melahirkan anak laki-lakinya yang juga berwujud raksasa. Anaknya diberi nama Kala.
Karena di duna raksasa tidak mengenal norma perkawaninan, maka dalam perkembangan selanjutnya, Betara Kala justru menjadi suami Dewi Uma. Mereka berdua selalu berbuat onar karena ingin balas dendam pada para dewa pimpinan Betara Guru.
2. Panakawan
Cepot: Cepot merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen. Cepot selalu menemani para Satria terutama Arjuna. Dalang biasanya menggunakan tokoh Cepot untuk menyampaikan pesan-pesan kepada penonton baik itu nasehat, kritik, petuah ataupun sindiran. Tentu saja semua pesan dari Cepot tersebut dikemas dalam bentuk guyon. Cepot juga dikenal dengan nama Sastrajingga. Sastra berarti tulisan, sedangkan Jingga adalah merah. Cepot merupakan gambaran tokoh wayang yang mempunyai kelakuan buruk. Ia diumpamakan seorang siswa yang memiliki nilai merah di rapot.
Dawala / Petruk : Dawala nama lainnya ialah Petruk. Suatu hari ia berkelahi dengan Gareng. Karena sama-sama congkak dan sama-sama mempertahankan pendirian masing-masing, terjadilah peperangan antara Dawala dan Gareng. Keduanya memiliki kesaktian yang seimbang sehingga tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Baik Dawala maupun Gareng tidak ada yang mau berhenti berkelahi meski tubuh mereka sudah sama-sama menjadi cacat tak karuan.
Durna: Semar, Cepot, Dawala dan Gareng merupakan empat tokoh panakawan dari kubu Pandawa. Sementara Durna adalah panakawan dari kubu Kurawa. Ia bersifat sombong, congkak, bengis, serta banyak bicara. Tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannya luar biasa. Durna juga sangat mahir dalam siasat perang. Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Durna dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa.
Gareng: Gareng lazim disebut sebagai anak Semar dan masuk golongan panakawan. Usia Gereng sangat panjang. Ia hidup sampai jaman Madya.
Semar: Semar Badranaya adalah penjelmaan dewa Ismaya. Bersama istrinya, Sutiragen, ia memiliki tiga anak yaitu Cepot, Dawala, dan Gareng. Semar ialah tokoh yang bijaksana, rendah hati, dan selalu membela kebenaran. Selain itu, Semar juga tokoh wayang yang paling sakti dari semua tokoh wayang.
3. Ponggawa
Antareja : Antareja adalah putra Bima dari istri keduanya, Dewi Nagagini. Ia memiliki dua saudara tiri yaitu Gatotkaca (anak Bima dengan Arimbi) dan Raden Jakatawang atau Antasena (anak Bima dengan Dewi Badawangwati). Lidahnya sangat sakti. Makhluk apapun yang telapak kakinya dijilat oleh lidah Antareja, akan menemui kematian. Kulit Antareja juga kebal terhadap senjata.
Bima: Raden Arya Bima atau Bratasena adalah Pandawa kedua. Perawakan Bima tinggi besar dan seringkali membuat orang takut terhadap dirinya. Meski perangai dan bicaranya kasar, Bima bersikap ksatria dan tidak tanggung-tanggung dalam membela kebenaran. Karena itulah sejak kecil, Bima merupakan Pandawa yang paling diincar oleh para Kurawa sebab ia dianggap Pandawa yang terkuat.
Duryudana: Duryudana adalah Kurawa yang pertama. Konon Kurawa awalnya dilahirkan dalam bentuk seonggok daging besar. Berkat keajaiban para dewata, maka daging tersebut pecah ke dalam seratus potongan dan potongan terbesar membentuk Duryudana. Duryudana konon sewaktu kecil dimandikan dengan air sakti sehingga tidak dapat luka bila terkena pukulan sekeras apapun. Akan tetapi, siraman air sakti tersebut tidak sempurna karena paha kirinya tertutup daun jati, sehingga menjadi titik lemahnya.
Gatotkaca: Gatotkaca adalah putra dari Arya Bima dan Arimbisuta. Ayahnya memberi ia nama Jabang Tutuka. Gatotkaca juga memiliki banyak nama pemberian dewa. Namun nama yang dipakainya adalah Gatotkaca, pemberian dari Batara Guru saat di Sawarga Maniloka. Gatotkaca sakti mandraguna dengan segala ilmu dan aji-aji pamungkasnya seperti Ajian Braja Musti, Braja Wesesa, Braja Lambatan, Braja Denta, Bajing Akeri, dan Sapta Pangrungu.
Jakatawang: Antasena atau Jakatawang merupakan putra Bima dari istrinya yang bernama Dewi Urang Ayu. Di antara ketiga putra Bima, Antasena-lah yang paling sakti. Antasena mampu terbang di udara, hidup di bawah tanah dan juga menyelam. Ia memiliki tubuh bersisik seperti udang dan tidak mempan ditusuk senjata.
Karna: Karna atau Adipati Karna ialah salah satu tokoh cerita Mahabharata yang sangat menarik. Ia sebenarnya masih saudara satu ibu dengan tiga Pandawa yaitu Yudistira, Bima dan Arjuna. Para Pandawa tidak tahu kalau Karna masih saudara seibu dengan mereka sehingga mereka suka menghinanya. Para Pandawa baru tahu kalau Karna adalah saudara seibu dengan mereka pada saat Karna gugur di perang Bharatayuddha.
Seta: Seta ialah kakak ipar Abimanyu, putra Arjuna. Adiknya, Dewi Utari, menikah dengan Abimanyu. Seta bersifat berani, tenang dan sabar. Ia juga hidup sebagai ksatria yang tidak bersentuhan dengan lawan jenis. Dalam perang Bharatayuddha, Seta berada di pihak Pandawa. Ia adalah senapati perang Pandawa yang pertama. Seta tewas oleh Bisma, senapati perang pihak Kurawa.
Setyaki: Setyaki ialah anak dari hasil pernikahan antara Ugrasena dengan Dewi Wersini. Dalam perang Bharatayuddha, Setyaki berada di pihak Pandawa.
Tirtanata: Tirtanata ialah nama lain dari Jayadrata. Selain itu, ia juga memiliki nama lain yaitu Bambang Sagara. Untuk memperdalam ilmu dalam bidang tata pemerintahan dan tata kenegaraan, Tirtanata pergi ke negara Astina untuk berguru pada Pandu Dewanata. Di Astina pula Tirtanata menikah dengan Dursilawati, satu-satunya Kurawa yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini membuatnya terikat dengan kubu Kurawa sehingga ketika perang Bharatayuddha pecah, Tirtanata berada di pihak Kurawa. Dalam perang tersebut, Tirtanata membunuh Abimanyu, putra Arjuna. Kemudian ia sendiri dibunuh oleh Arjuna.
Ugrasena: Ugrasena salah seorang ipar Pandu Dewanata, raja Astinapura. Ia adalah saudara kandung dari istri Pandu Dewanata, Dewi Kunti. Berkat bantuan Pandu Dewanata, Ugrasena berhasil menikahi Dewi Wersini, seorang bidadari. Wataknya berani, cerdas dan tangkas.
4. Satria
Arjuna: Arjuna adalah Panengah Pandawa, putra kandung dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu Dewanata, Raja Hastinapura.
Sejak remaja, Arjuna merupakan murid yang paling menonjol dalam kecerdasan dan keterampilannya bermain panah di antara Yudistira, Bima, dan para Kurawa.
Bambang Sumantri : Sumantri atau Bambang Sumantri adalah salah satu tokoh cerita Ramayana. Ia memiliki adik yang buruk rupa bernama Sokrasana. Karena malu memiliki adik yang buruk rupa, secara tak sengaja ia membunuh adiknya tersebut. Tetapi Sokrasana menjelma menjadi buaya. Ia pun membunuh Sumantri ketika Sumantri sedang berkelahi dengan Rahwana.
Destarata: Destarata adalah kakak dari Pandu Dewanata. Sejak lahir, Destarata sudah buta. Ia menikah dengan Gendari dan memiliki seratus anak yang terkenal dengan sebutan Kurawa. Setelah Pandu Dewanata wafat, Destarata diangkat manjadi raja. Destarata tidak memiliki ambisi pribadi dan mendedikasikan hidupnya untuk Negeri Astinapura.
Lesmana: Lesmana atau yang biasa dikenal dengan nama Laksmana merupakan salah satu tokoh protagonis dalam cerita Ramayana. Ia adalah adik tiri Rama. Ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Rama. Mereka bagaikan duet tak terpisahkan.
Dalam pertempuran melawan Rahwana, kekuatan Laksmana sangat membantu perjuangan Rama membebaskan istrinya, Dewi Shinta. Laksmana berhasil membunuh Kumbakarna, adik Rahwana.
Nakula: Adalah Pandawa ke empat. Ia terlahir kembar dengan Sadewa. Ayah dan ibunya meninggal pada Nakula dan Sadewa masih kecil. Karena itu sejak kecil mereka diasuh oleh ibu Kunti dengan tidak membedakan antara satu dengan lainnya. Pada waktu perang Baratayuda, Nakula dan kembarannya, Sadewa, bisa meluluhkan hati Prabu Salya (dari pihak Kurawa).
Pandu Dewanata: Pandu Dewanata merupakan raja Astinapura dan ayah dari para Pandawa. Semestinya pewaris tahta kerajaan Astinapura adalah kakak Pandu Dewanata yaitu Destarata. Namun karena Destarata terlahir buta, maka Pandu Dewanata-lah yang diangkat menjadi raja. Selain Destarata, Pandu Dewanata juga memiliki seorang saudara kandung lagi yaitu adiknya yang bernama Widura. Pandu Dewanata menikah dengan Dewi Kunti dan memperoleh tiga putra : Yudistira, Bima, Arjuna. Kemudian ia menikah lagi dengan Dewi Madrim dan mendapatkan putra kembar : Nakula dan Sadewa.
Rama: Rama beristerikan Dewi Shinta, dan memiliki anak yaitu Kusiya, dan Rama Batlawa.
Karena kepandaian, kesaktian dan kehalusan budinya, Sri Rama mendapat anugrah sebagai titisan Sang Hyang Wisnu yang bertugas memusnahkan angkara murka di muka bumi.
Sadewa: Bersama kembarannya, Nakula, Sadewa adalah tokoh yang mencerminkan tingkah laku untuk mencapai kesejahteraan/kemakmuran hidup. Sadewa ahli dan tekun dalam bidang peternakan, sedangkan Nakula adalah ahli dan tekun dalam bidang pertanian.
Sinta: Dewi Shinta adalah istri dari Batara Rama. Ia diculik oleh raksasa Rahwana. Dalam cerita epik Ramayana, Shinta merupakan symbol kesetiaan dan kesucian.
Yudistira: Nama lain dari Yudistira adalah Samiaji dan Puntadewa. Samiaji merupakan panggilan dari Prabu Kresna. Sifatnya jujur, sabar, suka menolong sesama, mencintai orangtua serta melindungi saudara-saudaranya. Ia memiliki dua istri yaitu Dewi Drupadi dan Dewi Kuntulwilaten.
Bambang Irawan: Bambang Irawan merupakan salah satu putra Arjuna. Ibunya ialah Dewi Ulupi. Bambang Irawan amat disayang oleh ibunya. Mereka tak pernah berpisah. Bambang Irawan ikut bergabung dengan Pandawa lainnya untuk melawan keluarga Kurawa saat perang Bharatayuddha pecah. Ketika itulah untuk pertama kalinya ia berpisah dengan ibunya. Perpisahan itu juga menjadi perpisahan terakhir antara Bambang Irawan dengan ibunya sebab Bambang Irawan tewas pada awal pecahnya perang Bharatayuddha.
Dewi Subadra: Dewi Subadra adalah salah satu istri dari Arjuna, Pandawa yang ketiga. Bersama Arjuna, Dewi Subadra memiliki seorang putra yang diberi nama Abimanyu. Wataknya setia, murah hati, baik budi, sopan, menarik hati, tetapi ia mudah tersinggung.
Abimanyu: Abimanyu putra dari Arjuna, salah satu dari lima Pandawa. Sifatnya halus, baik tingkah lakunya, terang ucapannya, berhati keras, bertanggujawab, dan pemberani. Abimanyu beristri dua, yaitu Dewi Siti Sundari dan Dewi Utari.
Parikesit : Parikesit merupakan cucu Arjuna. Ayahnya ialah Abimanyu. Sejak lahir Parikesit sudah menjadi anak yatim sebab ayahnya, Abimanyu, gugur di medan Perang Bharatyuddha ketika ia masih dalam kandungan ibunya, Dewi Utari. Parikesit naik tahta menjadi raja Astina menggantikan Yudistira. Parikesit berwatak bijaksana, jujur dan adil. Kesamaan Parikesit dengan kakeknya, Arjuna, adalah sama-sama beristri banyak. Parikesit memiliki lima orang istri. Dari pernikahannya tersebut, Parikesit memperoleh delapan orang anak.
Wisanggeni: Wisanggeni putra dari Arjuna dan salah satu istrinya, Dewi Dresanala. Wajahnya tampan sementara wataknya bersahaja. Wisanggeni tumbuh menjadi lelaki yang memiliki kecerdikan, kepandaian dan kesaktian luar biasa. Ia bisa terbang di udara seperti Gatotkaca,dapat masuk ke dalam perut bumi seperti Antareja dan mampu menyelam seperti Antasena.
Drupadi: Ada dua versi cerita mengenai Drupadi. Dalam cerita Mahabharata, Drupadi dikisahkan menjadi istri dari kelima Pandawa setelah kubu PAndawa memenangkan sayembara memanah di Bharatawarsha. Sementara dalam versi pedalangan Jawa, Drupadi hanya menikah dengan Yudistira. Hal ini merupakan penyesuaian cerita wayang dengan budaya Jawa yang sudah dipengaruhi oleh Islam. Sebab dalam Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu orang.
Kunti Talibroto: Kunti ialah istri pertama Pandu Dewanata. Dari pernikahannya itu ia melahirkan tiga putra yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kunti juga memiliki anak tiri dari istri kedua suaminya yaitu si kembar Nakula dan Sadewa. Nakula dan Sadewa diasuh oleh Kunti setelah ibu mereka, Madrim, meninggal ketika mereka masih kecil.



Bagi anda yang ingin mempunyai wayang golek dengan kwalitas terbaik hasil olahan tangan terampil dan berpengalaman, kami menyediakan dengan berbagai ukuran,
Daftar Harga Wayang Golek
1. Tinggi 12 cm, harga Rp 15.000.
2. Tinggi 45 cm, harga Rp 155.000.
3. Tinggi 60 cm, Harga 250.000
 atau sesuai keinginan anda. harga bervariasi
Info hubungi: Theo di 085283737312

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar